Detail Berita

SEJARAH DESA SUKODADI, MALANG

Tak kalah mengagumkan dengan asal-usul Kota Malang, sejarah berdirinya Desa Sukodadi juga sangat menarik untuk dikulik secara lebih jauh. Berdasarkan keterangan petuah desa, terbentuknya Desa Sukodadi tak dapat dipisahkan dari berdirinya enam pedukuhan yang ada di desa ini. Pada awalnya, masing-masing pedukuhan tidak memiliki pemerintahan yang resmi seperti sekarang. Masuknya kolonial Belanda pada abad 18 ke pedukuhan-pedukuhan tersebut menjadikan masyarakat sekitar saling terpecah belah karena politik devide et impera. Seiring dengan berjalannya waktu, kesadaran dan rasa nasionalisme masyarakat mulai terbentuk, sehingga berdirilah enam pedukuhan yang dikenal saat ini.

Nama Pedukuhan Genderan berasal dari kata berbahasa Jawa “Gendero” yang artinya bendera. Petuah setempat mengatakan bahwa dulu terdapat bendera sakral yang terletak di sekitar punden daerah tersebut. Oleh sebab itu, penduduk sekitar menyebut pemukiman ini sebagai Pedukuhan Genderan. Sementara itu, terbentuknya Dukuh Jamuran bermula dari adanya pohon besar yang sudah rapuh di sekitar punden setempat. Karena wilayahnya lembab, pohon besar tersebut akhirnya ditumbuhi banyak jamur. Hal itulah yang menyebabkan masyarakat pribumi memberi nama wilayah ini Jamuran. Di sisi lain, asal muasal nama Dukuh Kebonkuto dilatarbelakangi oleh perkebunan luas yang dimiliki oleh seorang saudagar dari kota. Karena perkebunan tersebut dijadikan sebagai pemukiman penduduk, maka nama yang dilekatkan pada wilayah ini adalah “Kebonkuto” yang artinya perkebunan milik orang kota.

Pedukuhan selanjutnya adalah Petungpapak. Diberi nama Petungpapak karena zaman dahulu wilayah tersebut memiliki hutan “Bambu Petung” yang terlihat “Dampak” atau rata. Bermuara dari fenomena tersebut, penduduk lokal menamainya sebagai Pedukuhan Petungpapak. Berikutnya adalah Pedukuhan Jengglong yang namanya diambil dari tanaman “Jangklong”, yang tumbuh subur di sekitar sumber mata air setempat. Sementara itu, Ampelantuk menjadi pedukuhan yang memiliki asal usul lebih unik dibandingkan pedukuhan lainnya. Nama Ampelantuk berasal dari dua suku kata yaitu “Ampel” dan “Ngantuk”. Ampel merupakan salah satu jenis tumbuhan bambu yang tumbuh masal di wilayah tersebut. Pada suatu waktu, terdapat tradisi ‘Selametan” atau kenduri untuk orang meninggal, yang digelar semalaman suntuk hingga pagi hari. Setelah acara selesai, salah satu warga pulang dengan membawa bingkisan pemberian pihak keluarga. Karena masih mengantuk, dirinya menunda perjalanan pulangnya dan memutuskan untuk istirahat sejenak di bawah pohon bambu ampel. Namun, nasib nahas menimpa dirinya karena bigkisan yang dibawanya dicuri oleh maling. Karena kejadian tersebut, penduduk mengenal lokasi ini sebagai Pedukuhan Ampelantuk.

Pada tahun 1899, dibentuk pamong dusun untuk pertama kalinya. Menurut informasi yang didapatkan, nama-nama pamong pada waktu itu adalah Parwi sebagai ‘Kamituwo’ atau kepala dusun, Dalim sebagai ‘Kepetengan’ atau penanggung jawab ketertiban, Karsan sebagai “Carik’ atau sekretaris desa, M. Irsyad sebagai ‘Mudin’ atau penanggung jawab keagamaan dan budaya, serta Ngatemin sebagai ‘Kebayan’ atau penanggung jawab hubungan masyarakat. Pamong-pamong tersebut membawahi enam wilayah pedukuhan yang ada.

Karena kolonial Belanda terus menduduki keenam pedukuhan hingga abad ke-19, masyarakat mulai berinisiatif untuk menyatukan wilayah-wilayah tersebut menjadi sebuah desa. Pada tahun 1912, tepatnya tanggal 29 November, masyarakat melakukan musyawarah untuk membahas pembentukan desa. Akhirnya, diperoleh keputusan final bahwa nama desa yang diberikan adalah “Sukodadi” yang mengandung arti bahwa “siapapun yang disukai, maka dialah yang akan dijadikan sebagai pemimpin desa”.

Berita Lain